Sabtu, 16 Juli 2016

Ridha Allah segala ketentuannya



   Meski rasa ini terus menyelubungi hati ini namun Ridha Allah lah yang penting diatas segala-galanya.
Pulang sekolah aku pun berjalan dengan perasaan yang Amat sangat bahagia.
Sembari bersalaman aku pun memberitahu hal ini dengan emak dan abah
"Assalamualaikum abah, emak alhamdulillah liat mak aku dapet beasiswa untuk lanjutin kuliahku di jurusan agama"
"Alhamdulillah, abah dan ema senang sekali nak, semoga kamu bisa mraih apa yang kamu cita2 kan ya nak, ema dan abah ridho dengan apapun ini.. Semangat anakusayang" degup hati abah dan emak bahagia sambil memeluk aku
Bismillahirrahmanirrahim Aku pun Berangkat ke kota jakarta untuk kuliahku disana dengan dibekali tekad yang kuat dan Ridho ema dan abah insha Allah. Allah pun ridha denganku.
1 bulan sudah aku belajar di universitas ini dan tinggal di kota metropolitan ini,banyak pengalaman dan pelajaran yang aku dapat disini salahsatunya adalah kemandirian karena jauh dari orng tua. Tetapi ada seseorang yang menyeludup ke dalam hatiku
"Dri, salam kenal. Aku azam " menjulurkan tanganya hendak bersalaman denganku tetapi aku bersalaman jauh karena sudah tau hukum islam melarang bersalaman dengan non mahrom
"Ohya, salam kenal juga kamu sudah mengetahui namaku terlebih dahulu?" Kerut dahi Anehku masa baru saja 1 bulan dan aku belum pernah bertemu dengan nya
Dia menujukan beberapa buah buku " nih katanya ini buku kamu kemarin tertinggal di kantin, karena itu aku mengetahui nama kamu dari rina temanmu"
"Ohya terimakasih ikhwan baik sekali"senyumpun keluar dari bibirku
"Aku pamit dulu ya,assalamualaikum"
"Waalaikum salam dri"
Berbulan-bulan dan hampir 1 tahun genap aku kuliah disini aku sangat rindu dengan ema dan abah di kampung hati ini begitu rindu ingin bersamanya kembali,tetapi aku harus tetap semangat berjuang untuk mereka lillahi ta'ala...
Tak hanya kemulusan dan pasti di hidup ini banyak ujian yang tak bisa dipungkiri dan memang itu sudah takdir Allah,untuk umatnya itu wajar,karena untuk mengetahui seberapa taqwa seorang hamba dengan sang ilahi,Termasuk saat ini aku sedang dilanda dengan hati yang berkecamuk
"Dri, boleh ngomong sesuatu,tapi kamu jangan marah ya" sejuknya pagi hari dengan disajikan tehh hangat di kantin membicarakan sesuatu kepadaku
"Silahkan." Senyum penasaranku
"Sejak berbulan-bulan mungkin kamu gatau perasaan aku bagaimana, mengenalmu seperti nya hal yang terindah yang baru aku rasakan selama ini.. Aku jatuh cinta kepadamu dri dan ingin hidup bersamamu, Maukah kamu menikah denganku dan menerimaku menjadi pendamping hidupmu??" 
Terseok-seok angin menghampiriku, degup jantungku makin kencang, aku gugup entah tak bisa bicara karena aku pun punya perasaan yang sama kepada azam, tetapi pula aku ingat pesan abah dan ema disini hanya untuk belajar dan lagipula aku belumm menyelesaikan s1 ku.
"Mohon maaf zam., aku hanya ingin mematuhi perintah kedua orangtuaku untuk sekedar belajar dan menimba ilmu disini,tak macam-macam lagipula sebentar lagi aku menyelesaikan skripsiku, silahkan tinggalkan aku pergi" dengan tangis dan baik2 aku menolak lamaran azam aku pun pergi dari kantin
Karena ridho Allah pun ridho orng tua dan murka Allah pun murka orang tua, aku mengingat salah satu hadits yg diriwayatkan tirmidzi itu, seolah2 tak guna jika bermacam-macam di kota orang lain ini apalagi menerima lamaran azam itu.
2 bulan sudah aku menyelesaikan skripsiku dan alhamdulillah aku pun lulus dengan nilai terbaik di kampus jurusan agama itu..
"Assalamualaikum... Emaaaa abahhhh aku pulang," sudah kebiasaan jika aku pulang dengan suara yang kencang jika dilanda senang seperti orang ingin tawuran heheh
"Mak abah aku lulus dengan peraih nilai terbaik mak....terimakasih ridhonya ya bah ma" peluk abah ema dengan cucuran air mata
"Alhamdulillah, kamu jadi orng yang sukses dan bahagia ema dan abah senang sekali...lanjutkan perjuangaanmu nak subahanallah "
Di ruang tamu aku berbincang2 dengan ema dan abah, berkumpul seperti inilah momen yang aku rindukan bersama kedua orang tuaku, ditengah2 perbincangan mengenai kota metropolitan itu aku membicarakan tentang azam
"Abah emak, aku mau ngomomng... Di jakarta ada yang melamarku untuk menikah tetapi aku tolak karena aku ingat pesan ema dan abah kalau di jakarta itu gak boleh macam2 dan tugasnya itu hanya untuk belajar" ujarku kepada orang tuaku dengan penuh perasaan takut
"Subhanallah alhamdulillah ema dan abah sngt beruntung mempunyai anak seperti kamu, sungguh sholehah kamu nak mematuhi perintah kami, sampai2 hati pun dikorbankan untuk menjalankan pesan abah dan emak" sahut abah dengan sembari mewakili perasaan ema yang bangga dengan patuhku terhadapnya dan takwanya kepada Allah
"Tapi abah ingin tanya, kamu cinta tidak kepada ikhwan itu" tanya abah dengan kesungguhan dan aku pun menjawab"ya bah"
Aku pun pergi ke jakarta untuk menemui rina sahabatku di kampus,karena dia adalah sahabat sejak pertama kali kenal sekaligus teman ngekos di kota jakarta ini, alhamdulillah aku dan dia sudah menyelesaikan skripsi nya secara bersamaan dan dia sudah aku anggap kakak ku sendiri karena aku banyak belajar dari dia, kami pun menikmati perbincangan dan tiba2 hatiku teringat pada sahrul dan rina pun menanyakan kepadaku
"Dri, bagaimana dengan azam?hayo jujur pasti rindu kan ya" ledek dia kepadaku
"Apa mungkin dia masih menungguku?? Rindu pasti hehe" senyum malu2 ku terpancar dengan kerinduan hati kepada azam
"Ya masih lahh drii, tengok saja" rina menghadap pintu luar dan tiba2 azam pun datang
"Aku masih menunggumu karena aku benar2 mencintaimu, memang menunggu menyakitkan tetapi pertemuan indah menghilangkan kesakitan ini apalagi melihat senyumu yang indah menawan ditambah dengan taat di dlm dirimu semakin membuatku ingin hidup bersamamu, Maukan kamu menikah denganku" degan berdiri tegak di depanku dan memberikan bunga mawar azam melamarku

"Aku mau..!! Karena Orangtuaku meridhai cinta kita dan sudah pasti Allah ridha dengan kita "